Generasi rabbani, masa depan bagi seorang muslim cukup dijawab dengan firman Allah, ”Aku bagaimana persangkaan hamba-Ku”. Tentu saja, ayat ini hanya bisa berfungsi ketika hadir iman dalam hati. Keimanan yang mendekatkan seorang hamba dengan penciptanya. Keimanan merupakan sumber kepuasan terhadap seburuk apapun bentuk masa lalu dan keyakinan akan segelap apapun masa depan. Bila seseorang telah merasa begitu, maka ia akan selalu yakin dan kemudian terus berbuat. Inilah kekuatan yang melahirkan kepeloporan.
Lihatlah disekeliling kita, berapa banyak orang yang sulit kehidupannya. Hidupnya dipenuhi kecewa atas keadaan dan merasa tidak memiliki masa depan. Akibatnya, waktunya habis dan tidak sempat melakukan apa-apa sehingga ia tidak memiliki kemampuan apa-apa. Karena tidak memiliki kemampuan, maka ia akan takut berbuat dan tidak bisa berkorban. Akhirnya ia menjadi seseorang yang hidupnya bergantung kepada orang lain. Kalau ada yang memberi pekerjaan ia bisa punya penghidupan. Kalau tidak maka ia akan semakin terlilit dalam himpitan kesulitan ekonomi.
Sementara itu orang beriman terlahir dengan hati yang didalamnya terkandung keyakinan yang kental. Ekstrak imannya memancar pada raut muka optimis yang pantang kecewa. Suasana negatif sekeruh apapun mampu dijernihkan dan dibuat kembali segar. Segala kebutuhan untuk merasa yakin sudah dengan sempurna mengisi setiap rongga hatinya. Segala pesan pencipta melalui ayat-ayatnya senantiasa mengalir dari bibir kesegenap sendi, urat, sel, aliran darah dan semua hal yang melahirkan gerak dan menumbuhkan produktifitas. Berita tentang masa depan, tentang batas kehidupan dunia, dan kehidupan di alam akhir, semuanya cukup memberi keyakinan untuk menentukan sikap dan berbuat.
Modal kepuasan akan masa lalu dan keyakinan akan masa depan inilah yang membangkitkan ‘amal perbuatan. Dan dititik inilah terlahir seorang pelopor. Disaat tidak ada seorangpun yang melakukan, maka ia lakukan –sendiri. Ya, mungkin hanya dia sendiri. Walau dicibir, dipandang sebelah mata, dianggap aneh, bahkan mungkin diketawain, tapi satu saja yang muncul dari dalam dirinya; keyakinan, segalanya bagaimana persangkaanku. Kalau aku berpikir baik, membuat persangkaan baik, maka akan menjadi baik. Jadi aku tinggal berbuat baik sekarang, untuk masa depan.
Menjadi pelopor adalah membuktikan keberanian dan siap berkorban. Karena ia harus berbuat disaat itu tidak lazim dilakukan. Disaat itu belum terbukti selamat dan dijamin berhasil. Keberanian dan siap berkorban ini hadir karena pengetahuan. Dan pengetahuan muncul karena sering berbuat. Sedangkan sering berbuat karena syukur atas yang ada sebagai kehendak Allah dan yakin akan jaminan masa depan ada dalam rencana baik Allah SWT. Inilah iman.
Alan Ashley-Pitt menyampaikan, orang yang mengikuti orang kebanyakan umumnya selalu tidak jauh dari orang kebanyakan. Seseorang yang berani berjalan sendirian kemungkinan besar akan mendapati dirinya berada di tempat yang belum pernah didatangi orang lain.
Dunia ini terus meluas, dan harus terus meluas. Karena kalau tidak meluas akan semakin menyempit. Jadi dibutuhkan individu yang mampu menunjukkan tempat baru dan tempat baru lagi. Dialah sang pelopor. Kehadiran seorang pelopor ibarat matahari. Ketika sinarnya sampai maka membuka segala sesuatu yang sebelumnya tidak jelas atau bahkan tidak nampak. Dulu tidak pernah terbayang orang bisa minum di mana saja. Tapi ketika ada yang mempelopori air dalam kemasan, maka sekarang berapa banyak perusahaan air dalam kemasan.
Mulailah berjalan sendirian, berhening-hening dengan iman di hati. Rasakan gejolak hati antara harap cemas didetik mencoba hal baru. Nikmati segala kepayahan ketika harus menanggung resiko. Menyibak segala rahasia Allah yang telah terhampar di alam raya ini. Coba dan bukalah terus hal baru itu. Temukan suasana-suasana yang mengagetkan yang belum ditemukan sebelumnya. Terus temukan lagi, lagi dan lagi. Sampai kepada puncak pencarian tempat yang paling mengagetkan, yakni syurga Allah. Untuk inilah seorang muslim menjadi pelopor.